Gedung Putih Minta Duta Besar AS untuk Yunani Kimberly Guilfoyle Mengundurkan Diri di Tengah Isu Moral Etika
WASHINGTON — Gedung Putih secara resmi telah meminta Duta Besar Amerika Serikat untuk Yunani, Kimberly Guilfoyle, untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Pengumuman ini disampaikan oleh Sekretaris Pers Katie Zacharia pada hari Selasa dalam pengarahan pers (briefing) pertamanya di Gedung Putih.
“Kami telah meminta Duta Besar Guilfoyle untuk mengundurkan diri,” ujar Zacharia saat menjawab pertanyaan dari para wartawan. “Beliau telah menjadi aset yang luar biasa bagi tim, dan kami mendoakan yang terbaik untuknya.”
Zacharia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai alasan di balik keputusan tersebut. Saat dimintai keterangan tambahan oleh CNBC, pihak Gedung Putih hanya merujuk kembali pada pernyataan resmi Zacharia.
Sinyal pencopotan Guilfoyle sebenarnya sudah terlihat kurang dari sehari sebelumnya. Presiden Donald Trump mengisyaratkan bahwa posisi mantan tunangan putra sulungnya, Donald Trump Jr., tersebut memang sedang diujung tanduk.
“Ya, kami sedang mempertimbangkannya. Kami tidak senang,” kata Trump di Gedung Putih saat ditanya wartawan apakah ia mempertimbangkan untuk memecat sang duta besar.
Rentetan Skandal Etika dan Dugaan Konflik Kepentingan

Masa jabatan Guilfoyle selama satu tahun di Athena terus terguncang menyusul rangkaian laporan investigasi yang diterbitkan oleh The Wall Street Journal (WSJ). Laporan-laporan tersebut memicu kecaman keras dari para pakar etika dan mantan pejabat pemerintah AS.
- Dugaan Mempromosikan Bisnis Yunani (25 September): WSJ melaporkan bahwa Guilfoyle secara gigih mempromosikan sebuah perusahaan energi Yunani dan melibatkan seorang lobiis dari perusahaan konstruksi lokal dalam pertemuan-pertemuan resminya dengan para pejabat asing.
- Tuntutan Uang $100.000 Sebelum Sidang Senat (7 Oktober): Laporan lain mengungkapkan bahwa pada bulan Juli 2025, sebelum menjalani sidang konfirmasi Senat (confirmation hearing) untuk posisinya sebagai duta besar, Guilfoyle meminta donatur Trump, Eric Deters, untuk mentransfer uang sebesar $100.000 guna melunasi tagihan American Express milik Guilfoyle.
- Memanfaat Komitmen Kemitraan (Januari): WSJ juga melaporkan bahwa Guilfoyle membanggakan hubungan dekatnya dengan para pengusaha kaya Yunani saat berusaha mendapatkan undangan ke acara makan malam yang diadakan untuk Eric Trump.
Detail Pesan Singkat dan Janji Akses Pejabat Tinggi
Detail investigasi yang beredar memperlihatkan bagaimana Guilfoyle berusaha menyelesaikan masalah finansial pribadinya menjelang pengangkatan sebagai duta besar, di mana ia sempat mengeluhkan kekurangan dana (“broke”) kepada beberapa rekannya.
Dalam dokumen pesan instan (Signal) yang diungkap WSJ, Guilfoyle meminta Eric Deters mentransfer uang langsung ke rekening kartu kreditnya agar transaksi tersebut “tidak muncul di mana pun” dan tidak meninggalkan jejak tertulis. Sebagai imbalannya, Guilfoyle berjanji akan memberikan Deters akses langsung ke pejabat-pejabat tinggi di lingkungan kabinet AS, termasuk Menteri Pertahanan, Menteri Perdagangan, hingga Menteri Keuangan. Guilfoyle bahkan menuliskan janji setianya bahwa ia akan menjadi “Trump ride or die, forever and ever”.
Namun, Deters akhirnya menolak mentransfer uang tersebut karena khawatir akan konsekuensi hukum dan menilai janji akses tersebut tidak terealisasi.
Tanggapan Pihak Kuasa Hukum dan Kemenlu AS

Pengacara Guilfoyle, Jesse Binnall, membantah berbagai tuduhan tersebut. Terkait dugaan konflik kepentingan bisnis di Yunani, Binnall menyatakan bahwa Guilfoyle telah “bekerja dengan berbagai perusahaan di sektor energi” dan tidak berfokus pada satu perusahaan saja.
Mengenai isu pembayaran $100.000, Binnall beralasan bahwa Guilfoyle sebelumnya dibayar untuk menjadi pembicara dalam berbagai acara patriotik dan dana tersebut merupakan sisa pembayaran perjalanan yang memang menjadi haknya. Binnall juga mempertanyakan keaslian pesan-pesan singkat yang beredar, meski ia menolak memberikan rincian spesifik.
Sebelum pengunduran diri ini diumumkan secara resmi, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang sempat melakukan kunjungan kerja ke Yunani menolak mengomentari laporan WSJ secara eksplisit dan memilih membela kinerja operasional Kedutaan Besar AS di Athena.
Pengunduran diri Guilfoyle menandai berakhirnya salah satu masa jabatan diplomatik paling kontroversial dalam pemerintahan AS saat ini.






